ASKEP NIFAS DENGAN PERDARAHAN POST PARTUM


A. PENGERTIAN
Post partum / puerperium adalah masa dimana tubuh menyesuaikan, baik fisik maupun psikososial terhadap proses melahirkan. Dimulai segera setelah bersalin sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna dan kembali mendekati keadaan sebelum hamil ( 6 minggu ). Masa post partum dibagi dalam tiga tahap : Immediate post partum dalam 24 jam pertama, Early post partum period (minggu pertama) dan Late post partum period (minggu kedua sampai minggu ke enam). Potensial bahaya yang sering terjadi adalah pada immediate dan early post partum period sedangkan perubahan secara bertahap kebanyakan terjadi pada late post partum period. Bahaya yang paling sering terjadi itu adalah perdarahan paska persalinan atau HPP (Haemorrhage Post Partum). Menurut Willams & Wilkins (1988) perdarahan paska persalinan adalah perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang lebih dari 500 cc segera setelah bayi lahir. Tetapi menentukan jumlah perdarahan pada saat persalinan sulit karena bercampurnya darah dengan air ketuban serta rembesan dikain pada alas tidur. POGI, tahun 2000 mendefinisikan perdarahan paska persalinan adalah perdarahan yang terjadi pada masa post partum yang menyebabkan perubahan tanda vital seperti klien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, dalam pemeriksaan fisik hiperpnea, sistolik < 90 mmHg, nadi > 100 x/menit dan kadar HB < 8 gr %.

B. KLASIFIKASI PERDARAHAN.

• Perdarahan paska persalinan dini/ early HPP/ primary HPP adalah perdarahan berlebihan ( 600 ml atau lebih ) dari saluran genitalia yang terjadi dalam 12 - 24 jam pertama setelah melahirkan.
• Perdarahan paska persalinan lambat / late HPP/ secondary HPP adalah perdarahan yang terjadi antara hari kedua sampai enam minggu paska persalinan.

C. ETIOLOGI
Penyebab perdarahan dibagi dua sesuai dengan jenis perdarahan yaitu :
• Penyebab perdarahan paska persalinan dini :
1. Perlukaan jalan lahir : ruptur uteri, robekan serviks, vagina dan perineum, luka episiotomi.
2. Perdarahan pada tempat menempelnya plasenta karena : atonia uteri, retensi plasenta, inversio uteri.
3. Gangguan mekanisme pembekuan darah.
• Penyebab perdarahan paska persalinan terlambat biasanya disebabkan oleh sisa plasenta atau bekuan darah, infeksi akibat retensi produk pembuangan dalam uterus sehingga terjadi sub involusi uterus.


D. FAKTOR PREDISPOSISI
Beberapa kondisi selama hamil dan bersalin dapat merupakan faktor predisposisi terjadinya perdarahan paska persalinan, keadaan tersebut ditambah lagi dengan tidak maksimalnya kondisi kesehatannya dan nutrisi ibu selama hamil. Oleh karena itu faktor-faktor haruslah diketahui sejak awal dan diantisipasi pada waktu persalinan :
1. Trauma persalinan
Setiap tindakan yang akan dilakukan selama proses persalianan harus diikuti dengan pemeriksaan jalan lahir agar diketahui adanya robekan pada jalan lahir dan segera dilakukan penjahitan dengan benar.
2. Atonia Uterus
Pada kasus yang diduga berisiko tinggi terjadinya atonia uteri harus diantisipasi dengan pemasangan infus. Demikian juga harus disiapkan obat uterotonika serta pertolongan persalinan kala III dengan baik dan benar.
3. Jumlah darah sedikit
Keadaan ini perlu dipertimbangkan pada kasus keadaan itu jelek, hipertensi saat hamil, pre eklampsia dan eklamsi.
4. Kelainan pembekuan darah
Meskipun jarang tetapi bila terjadi sering berakibat fatal, sehingga perlu diantisipasi dengan hati-hati dan seksama.

E. PATOFISIOLOGI

Pada dasarnya perdarahan terjadi karena pembuluh darah didalam uterus masih terbuka. Pelepasan plasenta memutuskan pembuluh darah dalam stratum spongiosum sehingga sinus-sinus maternalis ditempat insersinya plasenta terbuka.
Pada waktu uterus berkontraksi, pembuluh darah yang terbuka tersebut akan menutup, kemudian pembuluh darah tersumbat oleh bekuan darah sehingga perdarahan akan terhenti. Adanya gangguan retraksi dan kontraksi otot uterus, akan menghambat penutupan pembuluh darah dan menyebabkan perdarahan yang banyak. Keadaan demikian menjadi faktor utama penyebab perdarahan paska persalinan. Perlukaan yang luas akan menambah perdarahan seperti robekan servix, vagina dan perinium.







F. GAMBARAN KLINIK
Untuk memperkirakan kemungkinan penyebab perdarahan paska persalinan sehingga pengelolaannya tepat, perlu dibenahi gejala dan tanda sebagai berikut :
Gejala dan tanda Penyulit Diagnosa penyebab
• Uterus tidak berkontraksi dan lembek
• Perdarahan segera setelah bayi lahir
•   Syok
• Bekuan darah pada serviks atau pada posisi terlentang akan menghambat aliran darah keluar • Atonia uteri
• Darah segar mengalir segera setelah anak lahir
• Uterus berkontraksi dan keras
• Plasenta lengkap • Pucat
• Lemah
• Mengigil • Robekan jalan lahir
• Plasenta belum lahir setelah 30 menit
• Perdarahan segera, uterus berkontraksi dan keras • Tali pusat putus
• Inversio uteri
• Perdarahan lanjutan • Retensio plasenta
• Plasenta atau sebagian selaput tidak lengkap
• Perdarahan segera • Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus uteri tidak berkurang • Tertinggalnya sebagian plasenta
• Uterus tidak teraba
• Lumen vagina terisi massa • Neurogenik syok, pucat dan limbung • Inversio uteri

G. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan umum
a. Ketahui secara pasti kondisi ibu bersalin sejak awal
b. Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman
c. Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat
d. Segera lakukan penilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan dengan masalah dan komplikasi
e. Atasi syok jika terjadi syok
f. Pastikan kontraksi berlangsung baik ( keluarkan bekuan darah, lakukan pijatan uterus, beri uterotonika 10 IV dilanjutkan infus 20 ml dalam 500 cc NS/RL dengan tetesan 40 tetes/menit ).
g. Pastikan plasenta telah lahir lengkap dan eksplorasi kemungkinan robekan jalan lahir


h. Bila perdarahan tidak berlangsung, lakukan uji bekuan darah.
i. Pasang kateter tetap dan pantau cairan keluar masuk
j. Lakukan observasi ketat pada 2 jam pertama paska persalinan dan lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya.



H . PENATALAKSANAAN KHUSUS
a. Atonia uteri
 Kenali dan tegakan kerja atonia uteri.
•      Sambil melakukan pemasangan infus dan pemberian uterotonika, lakukan pengurutan uterus
•       Pastikan plasenta lahir lengkap dan tidak ada laserasi jalan lahir
•       Lakukan tindakan spesifik yang diperlukan :
o    Kompresi bimanual eksternal yaitu menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah telapak tangan yang melingkupi uteus. Bila perdarahan berkurang kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus dapat kembali berkontraksi atau dibawa ke fasilitas kesehata rujukan.
o    Kompresi bimanual internal yaituv uterus ditekan diantara telapak tangan pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjempit pembuluh darah didalam miometrium.
o    Kompresi aorta abdominalis yaitu raba arteri femoralis dengan ujung jari tangan kiri, pertahankan posisi tersebut genggam tangan kanan kemudian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu badan, hingga mencapai kolumna vertebralis, penekanan yang tepat akan menghetikan atau mengurangi, denyut arteri femoralis.

b. Retensio plasenta dengan separasi parsial
•         Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan tindakan yang akan diambil.
•          Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengejan, bila ekspulsi tidak terjadi cobakan traksi terkontrol tali pusat.
•          Pasang infus oksitosin 20 unit/500 cc NS atau RL dengan tetesan 40/menit, bila perlu kombinasikan dengan misoprostol 400mg per rektal.
•          Bila traksi terkontrol gagal melahirkan plasenta, lakukan manual plasenta secara hati-hati dan halus.
•          Restorasi cairan untuk mengatasi hipovolemia.
•          Lakukan transfusi darah bila diperlukan.
•          Berikan antibiotik profilaksis ( ampicilin 2 gr IV/oral + metronidazole 1 g supp/oral ).

c. Plasenta inkaserata
•               Tentukan diagnosis kerja
•          Siapkan peralatan dan bahan untuk menghilangkan kontriksi serviks yang kuat, tetapi siapkan infus fluothane atau eter untuk menghilangkan kontriksi serviks yang kuat, tetapi siapkan infus oksitosin 20 Untuk500 NS atau RL untuk mengantisipasi gangguan kontraksi uterus yang mungkin timbul.
 Bila bahan anestesi tidak tersedia, lakukan manuver sekrup untuk melahirkan plasenta. Pasang spekulum Sims sehingga ostium dan sebagian plasenta tampak jelas.
•          Jepit porsio dengan klem ovum pada jam 12, 4 dan 8 dan lepaskan spekulumv
 Tarik ketiga klem ovum agar ostium, tali pusat dan plasenta tampak jelas.
•          Tarik tali pusat ke lateral sehingga menampakkan plasenta disisi berlawanan agar dapat dijepit sebanyak mungkin, minta asisten untuk memegang klem tersebut.
 Lakukan hal yang sama pada plasenta kontra lateral
•          Satukan kedua klem tersebut, kemudian sambil diputar searah jarum jam tarik plasenta keluar perlahan-lahan.

d. Ruptur uteri
•            Berikan segera cairan isotonik ( RL/NS) 500 cc dalam 15-20 menit dan siapkan laparatomi.
•             Lakukan laparatomi untuk melahirkan anak dan plasenta, fasilitas pelayanan kesehatan dasar harus merujuk pasien ke rumah sakit rujukan
 Bila konservasi uterus masih diperlukan dan kondisi jaringan memungkinkan, lakukan operasi uterus
•             Bila luka mengalami nekrosis yang luas dan kondisi pasien mengkwatirkan lakukan histerektomi
•             Lakukan bilasan peritonial dan pasang drain dari cavum abdomen
•             Antibiotik dan serum anti tetanus, bila ada tanda-tanda infeksi.

e. Sisa plasenta
•            Penemuan secara dini, dengan memeriksa kelengkapan plasenta setelah dilahirkan
•             Berika antibiotika karena kemungkinan ada endometriosis
•             Lakukan eksplorasi digital/bila serviks terbuka dan mengeluarkan bekuan darah atau jaringan, bila serviks hanya dapat dilalui oleh instrument, lakukan evakuasi sisa plasenta dengan dilatasi dan kuret.
•             Hb 8 gr% berikan transfusi atau berikan sulfat ferosus 600mg/hari selama 10 hari.

f. Ruptur peritonium dan robekan dinding vagina
•         Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber perdarahan
•          Lakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptikv
 Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian ikat dengan benang yang dapat diserap
•          Lakukan penjahitan luka dari bagian yang paling distal
•          Khusus pada ruptur perineum komplit dilakukan penjahitan lapis demi lapis dengan bantuan busi pada rektum, sebagai berikut :
o   Setelah prosedur aseptik- antiseptik, pasang busi rektum hingga ujung robekan
o    Mulai penjahitan dari ujung robekan dengan jahitan dan simpul sub mukosa, menggunakan benang polyglikolik No 2/0 ( deton/vierge ) hingga ke sfinter ani, jepit kedua sfinter ani dengan klem dan jahit dengan benang no 2/0.
o    Lanjutkan penjahitan ke lapisan otot perineum dan sub mukosa dengan benang yang sama ( atau kromik 2/0 ) secara jelujur.
o    Mukosa vagina dan kulit perineum dijahit secara sub mukosa dan sub kutikuler
o    Berikan antibiotik profilaksis. Jika luka kotor berikan antibiotika untuk terapi.

g. Robekan serviks
•         Sering terjadi pada sisi lateral, karena serviks yang terjulur akan mengalami robekan pada posisi spina ishiadika tertekan oleh kepala bayi.
•          Bila kontraksi uterus baik, plasenta lahir lengkap, tetapi terjadi perdarahan banyak maka segera lihat bagian lateral bawah kiri dan kanan porsio
 Jepitan klem ovum pada kedua sisi porsio yang robekv sehingga perdarahan dapat segera di hentikan, jika setelah eksploitasi lanjutkan tidak dijumpai robekan lain, lakukan penjahitan, jahitan dimulai dari ujung atas robekan kemudian kearah luar sehingga semua robekan dapat dijahit. Setelah tindakan periksa tanda vital, kontraksi uterus, tinggi fundus uteri dan perdarahan paska tindakan
•          Berikan antibiotika profilaksis, kecuali bila jelas ditemui tanda-tanda infeksiv
 Bila terjadi defisit cairan lakukan restorasi dan bila kadar Hb dibawah 8 gr% berikan transfusi darah



I . PENGKAJIAN

1. Identitas : Sering terjadi pada ibu usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun

2. Keluhan utama : Perdarahan dari jalan lahir, badan lemah, limbung, keluar keringat dingin, kesulitan nafas, pusing, pandangan berkunang-kunang.

3. Riwayat kehamilan dan persalinan : Riwayat hipertensi dalam kehamilan, preeklamsi / eklamsia, bayi besar, gamelli, hidroamnion, grandmulti gravida, primimuda, anemia, perdarahan saat hamil. Persalinan dengan tindakan, robekan jalan lahir, partus precipitatus, partus lama/kasep, chorioamnionitis, induksi persalinan, manipulasi kala II dan III.

4. Riwayat kesehatan : Kelainan darah dan hipertensi

5. Pengkajian fisik :
 Tanda vital :
• Tekanan darah : Normal/turun ( kurang dari 90-100 mmHg)
• Nadi : Normal/meningkat ( 100-120 x/menit)
• Pernafasan : Normal/ meningkat ( 28-34x/menit )
• Suhu : Normal/ meningkat
• Kesadaran : Normal / turun
 Fundus uteri/abdomen : lembek/keras, subinvolusiv
 Kulit : Dingin, berkeringat, kering, hangat, pucat, capilary refil memanjangv
 Pervaginam : Keluar darah, robekan, lochea ( jumlah dan jenis )v
 Kandung kemih : distensi, produksi urin menurun/berkurangv

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan b/d perdarahan pervaginam
2. Gangguan perfusi jaringan b/d perdarahan pervaginam
3. Cemas/ketakutan b/d perubahan keadaan atau ancaman kematian
4. Resiko infeksi b/d perdarahan
5. Resiko shock hipovolemik b/d perdarahan.






K. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan b/d perdarahan pervaginam
Tujuan : Mencegah disfungsional bleeding dan memperbaiki volume cairan
Rencana tindakan :
1. Tidurkan pasien dengan posisi kaki lebih tinggi sedangkan badannya tetap terlentang
R/ Dengan kaki lebih tinggi akan meningkatkan venous return dan memungkinkan darah keotak dan organ lain.
2. Monitor tanda vital
R/ Perubahan tanda vital terjadi bila perdarahan semakin hebat
3. Monitor intake dan output setiap 5-10 menit
R/ Perubahan output merupakan tanda adanya gangguan fungsi ginjal
4. Evaluasi kandung kencing
R/ Kandung kencing yang penuh menghalangi kontraksi uterus
5. Lakukan masage uterus dengan satu tangan serta tangan lainnya diletakan diatas simpisis.
R/ Massage uterus merangsang kontraksi uterus dan membantu pelepasan placenta, satu tangan diatas simpisis mencegah terjadinya inversio uteri
6. Batasi pemeriksaan vagina dan rektum
R/ Trauma yang terjadi pada daerah vagina serta rektum meningkatkan terjadinya perdarahan yang lebih hebat, bila terjadi laserasi pada serviks / perineum atau terdapat hematom
Bila tekanan darah semakin turun, denyut nadi makin lemah, kecil dan cepat, pasien merasa mengantuk, perdarahan semakin hebat, segera kolaborasi.
7. Berikan infus atau cairan intravena
R/ Cairan intravena dapat meningkatkan volume intravaskular
8. Berikan uterotonika ( bila perdarahan karena atonia uteri )
R/ Uterotonika merangsang kontraksi uterus dan mengontrol perdarahan
9. Berikan antibiotik
R/ Antibiotik mencegah infeksi yang mungkin terjadi karena perdarahan
10. Berikan transfusi whole blood ( bila perlu )
R/ Whole blood membantu menormalkan volume cairan tubuh.

2. Gangguan perfusi jaringan b/d perdarahan pervaginam
Tujuan: Tanda vital dan gas darah dalam batas normal
Rencana keperawatan :
1. Monitor tanda vital tiap 5-10 menit
R/ Perubahan perfusi jaringan menimbulkan perubahan pada tanda vital

2. Catat perubahan warna kuku, mukosa bibir, gusi dan lidah, suhu kulit
R/ Dengan vasokontriksi dan hubungan keorgan vital, sirkulasi di jaingan perifer berkurang sehingga menimbulkan cyanosis dan suhu kulit yang dingin
3. Kaji ada / tidak adanya produksi ASI
R/ Perfusi yang jelek menghambat produksi prolaktin dimana diperlukan dalam produksi ASI
4. Tindakan kolaborasi :
 Monitor kadar gas darah dan PH ( perubahan kadar gas darah dan PH merupakan tanda hipoksia jaringan )
 Berikan terapi oksigen ( Oksigen diperlukan untuk memaksimalkan transportasi sirkulasi jaringan ).

3. Cemas/ketakutan berhubungan dengan perubahan keadaan atau ancaman kematian
Tujuan : Klien dapat mengungkapkan secara verbal rasa cemasnya dan mengatakan perasaan cemas berkurang atau hilang.
Rencana tindakan :
1. Kaji respon psikologis klien terhadap perdarahan paska persalinan
R/ Persepsi klien mempengaruhi intensitas cemasnya
2. Kaji respon fisiologis klien ( takikardia, takipnea, gemetar )
R/ Perubahan tanda vital menimbulkan perubahan pada respon fisiologis
3. Perlakukan pasien secara kalem, empati, serta sikap mendukung
R/ Memberikan dukungan emosi
4. Berikan informasi tentang perawatan dan pengobatan
R/ Informasi yang akurat dapat mengurangi cemas dan takut yang tidak diketahui
5. Bantu klien mengidentifikasi rasa cemasnya
R/ Ungkapan perasaan dapat mengurangi cemas
6. Kaji mekanisme koping yang digunakan klien
R/ Cemas yang berkepanjangan dapat dicegah dengan mekanisme koping yang tepat.

4. Resiko infeksi sehubungan dengan perdarahan
Tujuan : Tidak terjadi infeksi ( lokea tidak berbau dan TV dalam batas normal )
Rencana tindakan :
1. Catat perubahan tanda vital
R/ Perubahan tanda vital ( suhu ) merupakan indikasi terjadinya infeksi
2. Catat adanya tanda lemas, kedinginan, anoreksia, kontraksi uterus yang lembek, dan nyeri panggul
R/ Tanda-tanda tersebut merupakan indikasi terjadinya bakterimia, shock yang tidak terdeteksi
3. Monitor involusi uterus dan pengeluaran lochea
R/ Infeksi uterus menghambat involusi dan terjadi pengeluaran lokea yang berkepanjangan
4. Perhatikan kemungkinan infeksi di tempat lain, misalnya infeksi saluran nafas, mastitis dan saluran kencing
R/ Infeksi di tempat lain memperburuk keadaan
5. Berikan perawatan perineal,dan pertahankan agar pembalut
jangan sampai terlalu basah
R/ pembalut yang terlalu basah menyebabkan kulit iritasi dan
dapat menjadi media untuk pertumbuhan bakteri,peningkatan
resiko infeksi.
6. Tindakan kolaborasi
• Berikan zat besi ( Anemi memperberat keadaan )
• Beri antibiotika ( Pemberian antibiotika yang tepat diperlukan untuk keadaan infeksi ).

5.Resiko shock hipovolemik s/d perdarahan.
Tujuan: Tidak terjadi shock(tidak terjadi penurunan kesadaran
dan tanda-tanda dalam batas normal)
Rencana tindakan :
1. Anjurkan pasien untuk banyak minum
R/ Peningkatan intake cairan dapat meningkatkan volume intravascular sehingga dapat meningkatkan volume intravascular yang dapat meningkatkan perfusi jaringan.
2. Observasitanda-tandavital tiap 4 jam R/ Perubahan tanda-tanda vital dapat merupakan indikator terjadinya dehidrasi secara dini.
3. Observasi terhadap tanda-tanda dehidrasi. R/ Dehidrasi merupakan terjadinya shock bila dehidrasi tidak ditangani secara baik.
4. Observasi intake cairan dan output R/ Intake cairan yang adekuat dapat menyeimbangi pengeluaran cairan yang berlebihan.
5. Kolaborasi dalam : - Pemberian cairan infus / transfusi
R/ Cairan intravena dapat meningkatkan volume intravaskular yang dapat meningkatkan perfusi jaringan sehingga dapat mencegah terjadinya shock - Pemberian koagulantia dan uterotonika R/ Koagulan membantu dalam proses pembekuan darah dan uterotonika merangsang kontraksi uterus dan mengontrol perdarahan.







L. EVALUASI
Semua tindakan yang dilakukan diharapkan memberikan hasil :
• Tanda vital dalam batas normal :
a. Tekanan darah : 110/70-120/80 mmHg
b. Denyut nadi : 70-80 x/menit
c. Pernafasan : 20 – 24 x/menit
d. Suhu : 36 – 37 oc
• Kadar Hb : Lebih atau sama dengan 10 g/dl
• Gas darah dalam batas normal
• Klien dan keluarganya mengekspresikan bahwa dia mengerti tentang komplikasi dan pengobatan yang dilakukan
• Klien dan keluarganya menunjukkan kemampuannya dalam mengungkapkan perasaan psikologis dan emosinya
• Klien dapat melakukan aktifitasnya sehari-hari
• Klien tidak merasa nyeri
• Klien dapat mengungkapkan secara verbal perasaan cemasnya
























DAFTAR PUSTAKA

•         Brunner & Suddart,s (1996), Textbook of Medical Surgical Nursing –2, JB. Lippincot Company, Pholadelpia.

•         Klein. S (1997), A Book Midwives; The Hesperien Foundation, Berkeley, CA.

•         Lowdermilk. Perry. Bobak (1995), Maternity Nuring , Fifth Edition, Mosby Year Book, Philadelpia.

•         Prawirohardjo Sarwono ; EdiWiknjosastro H (1997), Ilmu Kandungan, Gramedia, Jakarta.

•         RSUD Dr. Soetomo (2001), Perawatan Kegawat daruratan Pada Ibu Hamil, FK. UNAIR, Surabaya

•         Subowo (1993), Imunologi Klinik, Angkasa, Bandung.

aborsi

CHAPTER I

DEFINITION OF ABORTION


Abortion has become the greatest destroyer of human life throughout the history of the world. Allan Guttmacher Institute research results (1989) reported that each year about 55 million aborted babies. This figure provides evidence that 150,658 babies murdered every day, or every 105 minutes a baby's life snatched away while still in
the womb.
Fetus: (Man in the uterus) aka abortion abortion (abortion, Latin) in general can be divided into two categories, namely natural abortion (miscarriage natural) and artificial abortion (abortus provocatus), which includes abortion provocatus criminalis, which is a follow crime and forbidden in Indonesia, (provided for in Article 15 paragraph 2 of Law - Law of the Republic of Indonesia Number 23 of 1992). A. Abortion is not only done by the women status as a wife who intend to stop the continuity of its contents, but also many people with pre-marital pregnancy do so.
The tendency to have an abortion is not separated from the view of the nature
when a human child's life begins.
Abortion is a complex issue, including religious values, ethics, moral and scientific and specifically as a problem of biology.
Abort the womb or in the medical world is known by the term "abortion". Means spending the products of conception (meeting the egg and sperm cells) before the fetus can live outside the womb. This is a process of termination of life of the fetus
before given the opportunity to grow.
In the world of medicine known as 3 kinds of abortion, namely:
1.      Spontaneous Abortion / Natural
2.      Abortion Artificial / Accidentally
3.      Abortion Therapeutic / Medical
Abortion spontaneous / natural place without any action. Mostly due to lack of good quality eggs and sperm cells, whereas artificial Abortion / deliberate termination of pregnancy is 28 weeks before pregnancy as a result of a deliberate and conscious action by the prospective mother or the executor of abortion (in this case the doctor,
midwife or midwives .)
Abortion therapeutic / medical is artificial abortions performed on medical indications. For example, expectant mothers who are pregnant but have high blood disease chronic or severe heart disease that could endanger both the mother and the fetus. But this is all over a mature medical considerations and not in a hurry.








CHAPTER II
RELIGION AND ABORTION

We will discuss this aspect of Islamic religion (Al-Quran & Abortion) and Christianity (Bible & Abortion) to describe understanding more about abortion and religion. First we will discuss it in terms of Islamic religion and then in terms of
Christianity.
Al-Quran & Abortion
Muslims believe that the Quran is the most important law for human life. He said: "We sent down the Qur'an to thee to explain all things." (Sura 16:89) So, it is clear that the verses contained in the Quran teach all people about the laws that control
 human actions.
There is no single verse in the Koran which states that abortions may be performed by Muslims. Conversely, many verses that state that the fetus in the womb is very noble. And many of the verses that states that the penalty for people who kill other
human beings are very scary.
First: Man - no matter how small - is a creation of God of glory.
Religion Islam upholds the sanctity of life. There are so many verses in the Quran that testify to this. One of them, Allah says: "And verily We have glorified the human
race." (Sura 17:70)
Second: Killing one life is tantamount to killing all people. Save one life is tantamount to saving  everyone.

In Islam, each of our behavior towards other people's life, has a huge impact. Word of God: "Whoever kills a human, not for reasons which the law requires qishash, or not because of unrest in the land, then as if he had killed all mankind. And those who maintain the safety of a human life, it was as if he has maintained all of the safety of
 human life. "(Sura 5:32)
Third: Muslims are prohibited from doing abortions on the grounds did not have
enough money or fear the lack of money.
Many expectant mothers who are young reasoned that because his income is not stable or insufficient savings, then he planned to abortion. It would be wrong thinking.Ayat Al-Quran reminds the word of God that says: "And kill not your children for fear of being destitute. It is we who give sustenance to them and to you
too. Surely killing them is great sin. "(Sura 17:31)
Fourth: Abortion is murder. Killing is against God's command.
Killing is a crime. This type of abortion performed with the aim of stopping the life of a baby in the womb without medical reasons known by the term "abortion provokatus criminalist" which is a criminal action - action against God. Al-Quran states: "The penalty against those who do anarchists against Allah and His
Messenger, and create unrest in the face of the earth disaster is: execution, or
crucifixion, or cut the hands and legs are crossed, or alienated from society. Such punishments as an insult to them in the world and the Hereafter they receive a painful
torment. "(Sura 5:36)
Fifth: Since we are still a fetus, God already knows us.
Since we are still very small in mother's womb, God already knows us. Al-Quran states: "He is more aware doin, since the start diciptakaNya earth elements and since you are still in your mother's womb." (Sura: 53:32) So, every fetus has been known to God, and the fetus is known to God that's what killed in the processabortion.
Sixth: No pregnancy which is the "accident" or chance. Every fetus is formed is God's
 plan.
God created man from dust, then a blood clot and into the fetus. All this does not happen by chance. Al-Quran records the word of God: "Then We stand fetus in the womb by the will of us over the age of the womb. Then we remove you from your mother's womb as a baby. "(Sura 22:5) In this paragraph instead emphasized the importance of fetal left alive" during the life of the womb. " There is no verse that says to remove the fetus before killing the fetus age let alone the womb by force!
Seventh: The prophet Muhammad never advocated abortion. Even in the case of pregnancy outside of marriage though, a tremendous respect for the Prophet
high life.
Pregnant outside of marriage means the act of adultery. Islamic law is very firmly against the perpetrators of adultery. However, the Prophet Muhammad - as told in the Book of Al-Hudud - not ordered a woman who is pregnant outside of marriage to abortion: Come to him (the Holy Prophet) a woman from Ghamid and said, 'Messenger of Allah, I have committed adultery, cleanse me .. " He (the Holy Prophet) menampiknya. The next day he said, 'Messenger of Allah, why do you menampikku?Maybe you like you dismiss Ma'is menampikku. By Allah, I have been pregnant. "The Prophet said," Well if you insist, then go until the child is born. "When the woman gave birth to her son to come together (bundled) rags and said," These are kids who kulahirkan. "So, hadith This tells us that although the pregnancy was due to adultery (outside marriage) remains the fetus must be maintained until the
time comes. Not brutally murdered.
















CHAPTER III

LAW AND ABORTION

According to the laws in force in Indonesia, abortion or abortion fetus, including crime, known by the term "abortion Provocatus Criminalis"
Who received punishment were:
1.      Women who have abortions
2.      Your doctor or midwife or the midwife who helped perform abortions
3.      The people who support the implementation of abortion
Some related articles are:
Article 229
1.      Any person who knowingly treat a woman or tell him so treated, with shared or generated hope, that because of this treatment can hamil discounted, the prescribed penalty Imprisonment of four years or a maximum fine of three thousand dollars.
2.      If the guilty, doing so for profit, or make such actions as search, or habit, or if
he was a physician, midwife or interpreters drugs, the criminal can be added a third.
3.      If found guilty, committed the crime, in undergoing search the inalienable right to conduct the search.
Article 341
A mother who, because of the fear out of childbirth, when the child was born or
shortly thereafter, deliberately depriving her child's life, is threatened, for killing their
own children, with a maximum imprisonment of seven years.
Article 342
A mother who, determined to carry out intentions for fear of getting caught that will
give birth to a child, when the child was born or shortly thereafter seized his son's
life, is threatened, for committing murder their own children with the plan, with a
maximum imprisonment of nine years.
Article 343
Crimes described in articles 341 and 342 is seen, for others who participated did, as
murder or murder with a plan.
Article 346
A woman who intentionally abort or kill abortion or get someone else to it,
punishable by a maximum imprisonment of four years.
Article 347
1.      Any person who deliberately abort or kill a woman's womb without consent, punishable by a maximum imprisonment of twelve years
2.      If the act resulted in death of woman, subject to imprisonment maximum of fifteen years.
Article 348
1.      Any person who deliberately abort or kill a woman's womb with his consent, punishable by a maximum imprisonment of five years and six months
2.      If the act resulted in death of woman, subject to maximum imprisonment of seven years.
Article 349
If a physician, midwife or interpreters helping drug crime which the article 346, or
conduct or assist in doing any of the crimes described in articles 347 and 348, then
the penalty specified in the article that can be added to one-third and inalienable right
to run the search in which the crimes were committed.















CHAPTER IV

RISK OF ABORTION


Abortion has a high risk to health or safety of a woman. It is not true to say that if
someone had an abortion she "did not feel anything and should go home
immediately."
This is a very misleading information for every woman, especially those who are
confused because they do not want a pregnancy that has occurred.
There are 2 kinds of health risks to women who have abortions:
1.      The risk of physical health and safety
2.       The risk of psychological disorders
Health risks and physical safety
At the time of abortion and after an abortion there are some risks that will confront a
woman, as described in the book "Facts of Life" written by Brian Clowes, PhD,
namely:
1.      Sudden death due to severe bleeding
2.      Sudden death due to anesthesia who failed
3.      Death by slow due to a serious infection around the womb
4.      A torn uterus (Uterine Perforation)
5.      Damage to the cervix (Cervical Lacerations) that would cause defects in subsequent child
6.      Breast cancer (because of hormonal imbalance of estrogen in women)
7.      Ovarian Cancer (Ovarian Cancer)
8.      Cervical cancer (Cervical Cancer)
9.      Liver cancer (Liver Cancer)
10.  Abnormalities in the placenta / placenta (Placenta Previa) which will
cause defects in the next child and bleeding on during subsequent pregnancies
11.  Being infertile / unable to have children again (ectopic Pregnancy)
12.  Pelvic infection (Pelvic Inflammatory Disease)
13.  Infection of the lining of the uterus (endometriosis)

Mental Health Risk
The process of abortion is not only a process that has a high risk in terms of health
and safety of a woman physically, but also has a great impact on the mental state of a
woman.
This phenomenon is known in the world of psychology as a "Post-Abortion
Syndrome" (Post-Abortion Syndrome) or PAS. These symptoms are noted in the
"Psychological Reactions Reported After Abortion" in the publication of The Post-
Abortion Review (1994).


Basically a woman who had an abortion will experience things like the following:
1.      Loss of self-esteem (82%)
2.      Hysterical (51%)
3.      Nightmares over and over again about the baby (63%)
4.      Want to commit suicide (28%)
5.      Start trying to use illicit drugs (41%)
6.      No longer able to enjoy sexual intercourse (59%)
Beyond the things mentioned above the women who have abortions would be filled
with guilt that is not lost for years in his life.