Sel Darah Putih


Sel darah putih (disebut juga leukosit)  membantu  melawan infeksi dalam tubuh kita.
Hitung Sel Darah Putih (white blood cell count/WBC) adalah jumlah total leukosit. Leukosit tinggi (hitung sel darah putih yang tinggi) umumnya  berarti tubuh kita sedang melawan infeksi. Leukosit rendah artinya ada masalah dengan sumsum tulang. Leukosit rendah, yang disebut leukopenia atau sitopenia, berarti  tubuh kita kurang mampu melawan infeksi.
Hitung Jenis (differential) menghitung  lima jenis sel darah putih: neutrofil,
limfosit, monosit, eosinofil dan basofil. Hasil masing-masing dilaporkan sebagai persentase jumlah leukosit. Persentase ini dikalikan leukosit untuk mendapatkan hitung ‘mutlak’. Contohnya, dengan limfosit 30% dan leukosit 10.000, limfosit mutlak adalah 30% dari 10.000 atau 3.000.
Neutrofil berfungsi melawan infeksi bakteri. Biasa jumlahnya 55-70% jumlah leukosit. Jika neutrofil kita rendah (disebut neutropenia), kita lebih mudah terkena infeksi bakteri. Penyakit HIV lanjut dapat menyebabkan neutropenia. Begitu juga, beberapa jenis obat yang dipakai oleh Odha (misalnya gansiklovir untuk mengatasi virus sitomegalo, lihat LI 501) dan AZT (semacam ARV; lihat LI 411). Ada dua jenis utama limfosit: sel-T yang menyerang dan membunuh kuman, serta membantu mengatur sistem kekebalan tubuh; dan sel-B yang membuat antibodi, protein khusus yang menyerang kuman. Jumlah limfosit umumnya 20-40% leukosit. Salah satu jenis sel-T adalah sel CD4, yang tertular dan dibunuh oleh HIV (lihat LI 124). Hitung darah lengkap tidak termasuk tes CD4. Tes CD4 ini harus diminta sebagai tambahan. Hasil hitung darah lengkap tetap dibutuhkan untuk menghitung jumlah CD4, sehingga dua tes ini umumnya dilakukan sekaligus.
Monosit atau makrofag mencakup 2- 8% leukosit. Sel ini melawan infeksi dengan ‘memakan’ kuman dan memberi tahu sistem kekebalan tubuh mengenai kuman apa yang ditemukan. Monosit beredar dalam darah. Monosit yang berada di berbagai jaringan tubuh disebut makrofag. Jumlah monosit yang tinggi umumnya menunjukkan adanya infeksi bakteri.
Eosinofil biasanya 1-3% leukosit. Sel ini terlibat dengan alergi dan tanggapan terhadap parasit. Kadang kala penyakit HIV dapat menyebabkan jumlah eosinofil yang tinggi. Jumlah yang tinggi, terutama jika kita diare, kentut, atau perut kembung, mungkin menandai keberadaan parasit.
Fungsi basofil tidak jelas dipahami, namun sel ini terlibat dalam reaksi alergi jangka panjang, misalnya asma atau alergi kulit. Sel ini jumlahnya kurang dari 1% leukosit.
Persentase limfosit mengukur lima jenis sel darah putih: neutrofil, limfosit, monosit,
eosinofil dan basofil, dalam bentuk persentase leukosit. Untuk memperoleh limfosit total, nilai ini dikalikan dengan leukosit. Misalnya, bila limfosit 30,2% dan leukosit 8.770, limfosit totalnya adalah 0,302 x 8.770 = 2.648.
Sel darah yang berperan khusus dalam sistem imun dalam tubuh adalah leukosit. Leukosit atau sel darah putih adalah sel yang mengandung inti. Dalam darah normal manusia terdapat 4000-11000 sel / mm³ ( A.V. Hoffbrand dan J.E Pettit, 1989 ). Jumlahnya pada anak-anak lebih tinggi dan pada keadaan patologis berbeda nyata dengan yang normal. Bila jumlahnya lebih dari jumlah leukosit normal, maka disebut leukositosis sedangkan bila jumlahnya kurang dari jumlah leukosit normal, maka disebut leukopenia. Leukosit terdiri dari dua golongan utama yaitu agranular dan granular. Leukosit agranular mempunyai sitoplasma tampak homogen dan intinya berbentuk bulat atau berbentuk ginjal. Leukosit granular mengandung granula spesifik dalam sitoplasmanya dan mempunyai inti yang memperlihatkan banyak variasi dalam bentuknya. Leukosit agranular terdiri dari limfosit dan monosit sedangkan leukosit granular terdiri dari neutrofil, basofil dan eosinofil. Limfosit di dalam darah manusia merupakan sel-sel bulat dengan diameter yang bervariasi antara 6 - 8μm ( C. Roland Leeson, dkk, 1996 ) walaupun beberapa diantaranya mungkin lebih besar tetapi kebanyakan hanya lebih besar sedikit daripada eritrosit. Jumlah limfosit adalah 20 – 35% dari leukosit darah normal. Gambaran yang paling mencolok dari limfosit kecil adalah inti yang relatif besar dikelilingi sitoplasma sempit. Inti tampak bulat dan pada umumnya menunjukkan cekungan atau lekukan pada satu sisi. Kromatin inti yang sangat padat terpulas gelap dan anak inti pada pulasan hapus darah tidak tampak. Granula azurofil keunguan, kadang-kadang terlihat di dalam sitoplasma dan tidak merupakan gambaran yang tetap seperti granula spesifik leukosit granular. Beberapa limfosit dalam sirkulasi darah normal berukuran 10 - 12μm ( C. Roland Leeson, dkk, 1996 ). Ukuran yang lebih besar disebabkan sitoplasmanya lebih banyak. Sel-sel tersebut kadang disebut sebagai limfosit ukuran sedang. Walaupun limfosit-limfosit darah morfologinya tampak serupa, mereka merupakan populasi sel yang heterogen. Limfosit dapat digolongkan berdasarkan asal, struktur halus, surface markers ( berkaitan dengan sifat imunologinya ), siklus hidup dan fungsi. Monosit merupakan sel besar yang jumlahnya 3 – 8% dari leukosit normal. Diameternya 9 – 10μm ( C. Roland Leeson, dkk, 1996 ) tetapi pada hapus darah kering menjadi pipih mencapai diameter 20μm atau lebih. Inti biasanya terletak eksentris dalam sel, terlihat mempunyai lekukan di dalam ( berbentuk tapal kuda ). Bahan kromatin dalam inti tersusun sebagai jala-jala halus sehingga inti dapat terpulas gelap. Sitoplasma relatif banyak dengan pulasan Wright berupa biru abu-abu pada sajian kering. Ia sering tampak seperti jala-jala atau berfakuola dan mengandung sejumlah granula azurofil. Sitoplasma juga mengandung beberapa retikulum endoplasma granular tetapi lebih sedikit ribosom bebasnya daripada yang terdapat di dalam limfosit. Neutrofil termasuk leukosit polimorfonuklir dalam keadaan segar  berdiameter 7 - 9μm dan dalam hapus darah kering 10 -12 μm ( C. Roland Leeson, dkk, 1996 ). Dalam darah manusia, neutrofil berjumlah 65 - 75% dari jumlah seluruh leukosit. Inti sangat polimorf dan memperlihatkan berbagai bentuk. Inti umumnya terdiri atas 3 sampai 5 lobus berbentuk lonjong yang tidak teratur yang dihubungkan oleh benang-benang kromatinyang halus. Jumlah lobus bertambah sesuai dengan bertambahnya umur sel. Sifat neutrofil yaitu mempunyai sitoplasma yang berlimpah yang diisi oleh granula yang halus. Disamping granula neutrofil spesifik, sitoplasma mengandung granula azurofil. Granula neutrofil ini pada mikrograf elektron tampak relatif padat dan mengandung enzim lisosom dan enzim peroksidase. Kedua jenis granula tersebut dibentuk dalam aparat golgi dan diliputi selaput membran ( membrane bounded ). Eosinofil termasuk leukosit asidofil yang tampak lebih besar daripada neutrofil dan dalam keadaan segar mempunyai diameter 9 - 10μm. Ukuran sel pipih bervariasi dari 12 - 14μm pada hapus darah kering ( C. Roland Leeson, dkk, 1996 ). Jumlah normalnya kurang lebih 2 – 4% dari jumlah sel leukosit. Inti biasanya mempunyai 2 lobus. Ciri khas sitoplasmanya adalah mengandung granula kasar refraktil yang seragam ukurannya dengan pulasan asam terpulas intensif. Granula spesifik pada mikrograf elektron tampak mencolok. Ia tampak berpita disebabkan adanya kristal-kristal silindris di dalamnya. Granula tampak mengandung peroksidase dan sejumlah enzim  hidrolitik sehingga granula-granula tersebut bersifat lisosomal. Basofil merupakan leukosit dalam darah manusia yang sulit ditemukan karena jumlahnya hanya 0,5 – 1% dari jumlah seluruh sel leukosit. Sel basofil yang berukuran kurang lebih sama dengan neutrofil, dalam keadaan segar mempunyai diameter 7 - 9μm sedangkan pada darah 16 hapus kering 10μm atau lebih. Batas inti sering tidak teratur dan untuk sebagian terbagi 2 lobus. Granula sitoplasma bulat kasar dengan ukuran berbeda-beda. Beberapa granula menutupi inti sehingga sering mengaburkan batasnya. Granula bersifat basofil dan metakromatik serta mengandung histamin, heparin dan serotonin. Tidak seperti granula dalam leukosit granular yang lain, granula ini tidak merupakan lisosom. Leukosit menjalankan sebagian besar fungsinya di luar sistem peredaran darah yaitu memperlihatkan gerakan aktif dan sebagian mempunyai daya fagositosis. Gerakan yang diperlihatkan adalah suatu proses merangkak atau amuboid pada substrat. Neutrofil adalah yang paling aktif kemudian diikuti monosit dan basofil. Limfosit umumnya tampak paling lambat tetapi dalam keadaan tertentu dapat menjadi luar biasa aktifnya. Di dalam tubuh terjadi perpindahan leukosit secara terusmenerus dari pembuluh darah masuk ke dalam jaringan. Perpindahan keluar ( emigrasi ) sangat meningkat ke arah tempat luka atau peradangan. Hal ini merupakan reaksi spesifik terhadap rangsangan kemotaktik. Sel-sel yang pertama tanggap dengan rangsangan tersebut adalah leukosit granular dan monosit. Limfosit tertimbun dalam jaringan pada tempat-tempat peradangan kronik. Neutrofil merupakan garis pertahanan pertama terhadap sebuah organisme. Granula spesifiknya yang bersifat lisosomal mengandung enzim-enzim hidrolitik yang bergabung dengan fagosom untuk membentuk lisosom sekunder. Disamping lisozim yang merusak glikosid pada dinding sel bakteri, mereka juga mengandung laktoferin yaitu suatu protein yang tidak hanya bakteriostatis terhadap bakteri pengguna besi tetapi juga menghalangi produksi neutrofil lebih lanjut. Granula-granula dapat menghasilkan suatu produk seperti klorida dan lesitin yang menghalangi atau membunuh mikroorganisme. Granula azurofil adalah jenis granula lain yang terdapat di dalam sitoplasma. Ia juga bersifat lisosomal, mengandung enzim asam hidrolitik dan enzim khusus mieloperoksidase yang bersatu dengan hidrogen peroksida menghasilkan oksigen aktif yang bersifat bakteriosidal. Ketika terjadi infeksi akut, neutrofil dapat menumpahkan pseudoplatelets ( trombosit semu ) yang segera dapat dibedakan dari keping-keping darah ( trombosit ) sejati karena mengandung mieloperoksidase neutrofil. Setelah aktifitas tersebut, neutrofil kehilangan semua granula dan akhirnya mati. Seperti halnya neutrofil, eosinofil mempunyai granula yang bersifat lisosomal dan dianggap memfagositosis kompleks antigenantibodi. Granula ter sebut juga dapat mengurangi peradangan dengan mengaktifkan histamin. Jumlah eosinofil bertambah dalam keadaan alergi tertentu dan infeksi parasit. Jumlah eosinofil yang bertambah ditarik ke arah tempat reaksi oleh faktor kemotaktik yang dihasilkan oleh basofil dan limfosit. Jumlah eosinofil berkurang setelah pemberian kortikosteroid adrenal. Basofil meningkat jumlahnya secara relatif pada keadaan patologis. Ada beberapa kenyataan yang menyokong pandangan bahwa granula basofil mengandung heparin, suatu antikoagulan darah dan histamin, suatu bahan vasodilatasi yang berefek cepat tapi singkat yang menginduksi kenaikan permeabilitas vaskuler. Basofil mempunyai hubungan yang erat dengan sel mast dan jaringan ikat lainnya. Begitu pula dengan monosit yang siap pindah tempat melalui dinding pembuluh dan melakukan fagositosis secara aktif. Beberapa sel limfosit dibentuk dalam sumsum tulang dari sel yang pluripoten atau hemopoietik ( hematopoietik ) dan masuk ke timus kemudian memperbanyak diri di sana. Sel-sel yang dihasilkan di dalam timus ini ( sel T ) kemudian masuk kembali ke dalam aliran darah dan kembali ke dalam sumsum tulang atau organ-organ limfoid perifer. Sel T bertanggung jawab terhadap reaksi imun selular dan mempunyai reseptor permukaan yang spesifik untuk mengenal antigen asing. Limfosit lain seperti sel B tidak melalui timus tetapi bergerak langsung lewat peredaran  darah ke jaringan limfoid umumnya. Sel B bertugas untuk memproduksi antibodi yang beredar dalam peredaran darah dan mengikat secara khusus antigen asing yang menyebabkan terbentuknya antigen asing – tersalut antibodi ( antibody-coated foreign antigen ). Kompleks ini mempertinggi fagositosis, lisis sel dan penghancuran Sel pembunuh ( killer cell atau sel K ) dari organisme yang menyerang. Sel T dan sel B secara morfologis hanya dapat dibedakan ketika diaktifkan oleh antigen.
Tahap akhir diferensiasi sel-sel B yang diaktifkan berwujud sebagai sel plasma ( C. Roland Leeson, dkk, 1996). Respon imun terdiri dari respon imun nonspesifik dan respon imun spesifik. Respon imun nonspesifik merupakan respon imun bawaan yang berarti respon ini dapat terjadi meskipun sebelumnya tubuh belum pernah terpapar oleh zat tersebut. Sedangkan respon imun spesifik adalah reaksi dari host terhadap benda asing mencakup sederetan interaksi seluler yang ditandai dengan adanya produk yang spesifik dari sel. Respon imun spesifik dibagi menjadi 3 golongan yaitu respon imun seluler, respon imun humoral dan interaksi antara respon imun seluler dan humoral ( T. Gartinah, 1996 ).




Gambar macam – macam sel leukosit
        
Neutrofil              Limfosit                Monosit      Basofil


macam – macam sel leukosit

                
Eosinofil





Hitung leukosit menyatakan jumlah sel-sel leukosit perliter darah (System International Units = SI unit) atau per satu mmk darah. Nilai normalnya 4000 - 11000 / mmk.Untuk penerapan hitung leukosit ada dua metode, manual dan elektronik. Pada umumnya metode elektronik belum digunakan secara umum, mungkin baru di laboratorium besar, sehingga cara manual masih memegang peranan penting. Metode elektronik tidak dibicarakan.
a. Dasar
Darah diencerkan dengan larutan asam lemah, yang menyebabkan sel-sel erotrosit hemolisis serta darah menjadi encer, sehingga sel-sel leukosit mudah dihitung.
b. Peralatan :
1. haemocytometer
·         bilik hitung
·         pipet leukosit
·         pipet eritrosit (untuk menghitung eritrosit)
Bilik Hitung adalah bilik hitung Neubauer Improve atau Burker karena mempunyai daerah perhitungan yang luas.
burker : luas seluruh bilik : 3x 3 mm2. di dalam bilik terdapat :         
·         kotak besar : 1 x 1 mm2
·         kotak sedang : 1/5 x 1/5 mm2
·         kotak kecil : 1/20 x 1/20 mm2
Neubauer Improve : luas seluruh bilik 3 x 3 mm2. tinggi/dalam 0,1 mm. di dalam bilik terdapat :
·         kotak besar : 1 x 1 mm2
·         kotak sedang ada 2 macam :
o    di tengah : 1/5 x 1/5 mm2
o    di empat sudut : 1/4 x 1/4 mm2
·         kotak kecil : 1/20 x 1/20 mm2
pipet leukosit didalamnya terdapat bola berwarna putih, mempunyai garis 0,5 - 1 - 11
2. kaca penutup
3. mikroskop
c. Larutan pengencer yang dapat digunakan salah satunya larutan truk
  • asam asetat glacial 2 ml
  • gentian violet 1 ml
  • aquades 100 ml

d. Spesimen
Darah vena atau darah kapiler
e. Cara Kerja
  • Bilik hitung dicari dengan menggunakan mikroskop, cari kotak sedang di tempat ujung bilik hitung
  • hisap darah dengan pipet leukosit sampai angka 1 (pengenceran = 10x) atau sampai angka 5 (pengenceran = 20x)
  • hapus darah yang melekat pada ujung pipet
  • kenudian dengan pipet yang sama hisap larutan truk sampai angka 11
  • campur (kocok) secara horisontal
  • buang tetesan pertama
  • tuangkan dalam bilik hitung yang telah ditutup dengan kaca penutup dan diletakkan di mikroskop
  • lakukan perhitungan sel leukosit dengan perbesaran obyektif 10 atau 40 x.
f. Perhitungan
jumlah leukosit =

rata-rata jumlah leukosit tiap kotak X pengenceran
volume tiap kotak



g. Nilai Normal menurut Dacie
  • dewasa pria : 4 - 11 ribu/mmk
  • dewasa wanita : 4 - 11 ribu/mmk
  • bayi : 10 -25 ribu/mmk
  • 1 tahun: 6 - 18 ribu/mmk
  • 12 tahun : 4,5 - 13 ribu/mmk


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar