Penyakit Jantung Koroner



DEFINISI
Penyakit Arteri Koroner / penyakit jantung koroner (Coronary Artery Disease) ditandai dengan adanya endapan lemak yang berkumpul di dalam sel yang melapisi dinding suatu arteri koroner dan menyumbat aliran darah. 

Endapan lemak (ateroma atau plak) terbentuk secara bertahap dan tersebar di percabangan besar dari kedua arteri koroner utama, yang mengelilingi jantung dan menyediakan darah bagi jantung. 
Proses pembentukan ateroma ini disebut aterosklerosis. 

Aterosklerosis 

Ateroma bisa menonjol ke dalam arteri dan menyebabkan arteri menjadi sempit. 
Jika ateroma terus membesar, bagian dari ateroma bisa pecah dan masuk ke dalam aliran darah atau bisa terbentuk bekuan darah di permukaan ateroma tersebut. 

Supaya bisa berkontraksi dan memompa secara normal, otot jantung (miokardium) memerlukan pasokan darah yang kaya akan oksigen dari arteri koroner. 
Jika penyumbatan arteri koroner semakin memburuk, bisa terjadi iskemi (berkurangnya pasokan darah) pada otot jantung, menyebabkan kerusakan jantung. 

Penyebab utama dari iskemi miokardial adalah penyakit arteri koroner. 
Komplikasi utama dari penyakit arteri koroner adalah angina dan serangan jantung (infark miokardial). 

Aterosklerosis 
Aterosklerosis
PENYEBAB
Penyakit arteri koroner bisa menyerang semua ras, tetapi angka kejadian paling tinggi ditemukan pada orang kulit putih. Tetapi ras sendiri tampaknya bukan merupakan faktor penting dalam gaya hidup seseorang. 
Secara spesifik, faktor-faktor yang meningkatkan resiko terjadinya penyakit arteri koroner adalah:
·  Diet kaya lemak
·  Merokok
·  Malas berolah raga. 


Kolesterol dan Penyakit Arteri Koroner 

Resiko terjadinya penyakit arteri koroner meningkat pada peningkatan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL (kolesterol jahat) dalam darah. 
Jika terjadi peningkatan kadar kolesterol HDL (kolesterol baik), maka resiko terjadinya penyakit arteri koroner akan menurun. 

Makanan mempengaruhi kadar kolesterol total dan karena itu makanan juga mempengaruhi resiko terjadinya penyakit arteri koroner. Merubah pola makan (dan bila perlu mengkonsumsi obat dari dokter) bisa menurunkan kadar kolesterol. Menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL bisa memperlambat atau mencegah berkembangnya penyakit arteri koroner. 

Menurunkan kadar LDL sangat besar keuntungannya bagi seseorang yang memiliki faktor resiko berikut:
·  Merokok sigaret
·  Tekanan darah tinggi
·  Kegemukan
·  Malas berolah raga
·  Kadar trigliserida tinggi
·  Keturunan
·  Steroid pria (androgen). 
GEJALA
  1. Nyeri dada (angina). Anda mungkin merasa tekanan atau sesak di dada, seolah-olah seseorang sedang berdiri di dada Anda. Rasa sakit, yang disebut sebagai angina, biasanya dipicu oleh tekanan fisik atau emosional. Hal itu biasanya hilang dalam beberapa menit setelah menghentikan aktivitas yang menyebabkan tekanan. Pada beberapa orang, terutama perempuan, nyeri ini mungkin sekilas atau tajam dan terasa di perut, punggung, atau lengan.
  2. Sesak napas. Jika jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh Anda, Anda dapat mengalami sesak napas atau kelelahan ekstrem tanpa tenaga .
  3. Serangan jantung. Jika arteri koroner menjadi benar-benar diblokir, Anda mungkin mengalami serangan jantung. Gejala klasik serangan jantung termasuk tekanan yang menyesakkan dada dan sakit pada bahu atau lengan, kadang-kadang dengan sesak napas dan berkeringat. Wanita mungkin kurang mengalami tanda-tanda khas serangan jantung dibanding laki-laki, termasuk mual dan sakit punggung atau rahang. Kadang-kadang serangan jantung terjadi tanpa ada tanda-tanda atau gejala yang jelas.
DIAGNOSA
Dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan anda, melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah rutin. Ia mungkin menyarankan satu atau lebih tes diagnostik juga, termasuk:
  1. Elektrokardiogram (EKG). Elektrokardiogram mencatat sinyal listrik ketika mereka bergerak melalui jantung Anda. EKG sering mengungkapkan bukti dari serangan jantung sebelumnya atau dalam perkembangan. Dalam kasus lain, Holter monitoring mungkin disarankan. Dengan EKG jenis ini , Anda memakai monitor portabel selama 24 jam saat Anda menjalani aktivitas normal. Kelainan tertentu mungkin menunjukkan aliran darah tidak memadai untuk jantung Anda.
  2. Echocardiogram. Ekokardiogram menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar jantung Anda. Selama ekokardiogram, dokter anda dapat menentukan apakah semua bagian dari dinding jantung berkontribusi biasa dalam aktivitas memompa jantung. Bagian yang bergerak lemah mungkin telah rusak selama serangan jantung atau menerima terlalu sedikit oksigen. Ini mungkin menandakan penyakit arteri koroner atau berbagai kondisi lain.
  3. Tes stres. Jika tanda-tanda dan gejala paling sering terjadi selama oalh raga, dokter mungkin meminta Anda untuk berjalan di atas treadmill atau naik sepeda statis selama EKG. Hal ini dikenal sebagai olah raga tes stres. Dalam kasus lain, obat untuk merangsang jantung Anda dapat digunakan sebagai pengganti olah raga. 

    Beberapa tes stres dilakukan dengan menggunakan ekokardiogram. Ini dikenal sebagai stres echos. Sebagai contoh, dokter Anda mungkin melakukan USG sebelum dan setelah olah raga di atas treadmill atau sepeda. Atau dokter Anda dapat menggunakan obat untuk merangsang jantung Anda selama ekokardiogram. 

    Tes stres lain dikenal sebagai tes stres nuklir membantu mengukur aliran darah ke otot jantung Anda saat istirahat dan selama stres. Hal ini mirip dengan tes tekanan olahraga rutin tetapi dengan gambar di samping EKG. Jejak jumlah bahan radioaktif - seperti talium atau suatu senyawa yang dikenal sebagai sestamibi (Cardiolite) - yang disuntikkan ke dalam aliran darah. Kamera khusus dapat mendeteksi daerah-daerah dalam jantung yang menerima kurang aliran darah.
  4. Koroner kateterisasi. Untuk melihat aliran darah melalui jantung Anda, dokter Anda mungkin menyuntikkan cairan khusus ke dalam pembuluh darah (intravena). Hal ini dikenal sebagai angiogram. Cairan disuntikkan ke dalam arteri jantung melalui pipa panjang, tipis, fleksibel (kateter) yang dilewati melalui arteri, biasanya di kaki, ke arteri jantung. Prosedur ini dinamakan kateterisasi jantung. SPewarna menandai bintik-bintik penyempitan dan penyumbatan pada gambar sinar-X. Jika Anda memiliki penyumbatan yang membutuhkan perawatan, balon dapat didorong melalui kateter dan ditiup untuk meningkatkan aliran darah dalam jantung. Sebuah pipa kemudian dapat digunakan untuk menjaga arteri melebar terbuka.
  5. Tteknologi CT scan. Computerized tomography (CT) , seperti berkas elektron computerized tomography (EBCT) atau CT angiogram koroner, dapat membantu dokter Anda memvisualisasikan arteri Anda. EBCT, juga disebut sebagai ultrafast CT scan, dapat mendeteksi kalsium dalam lemak yang sempit arteri koroner. Jika sejumlah besar kalsium ditemukan, penyakit arteri koroner mungkin terjadi. CT angiogram koroner, di mana Anda menerima pewarna kontras yang disuntikkan secara intravena selama CT scan, juga dapat menghasilkan gambar dari arteri jantung Anda.
  6. Magnetic Resonance angiogram (MRA). Prosedur ini menggunakan teknologi MRI, sering digabungkan dengan menyuntikkan zat warna kontras, untuk memeriksa area penyempitan atau penyumbatan - meskipun rincian mungkin tidak sejelas yang disediakan oleh kateterisasi koroner.
PENGOBATAN
Berbagai obat dapat digunakan untuk mengobati penyakit arteri koroner, termasuk:
  1. Obat modifikasi kolesterol. Dengan mengurangi jumlah kolesterol dalam darah, terutama low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol "buruk" , obat-obatan ini mengurangi bahan utama yang menumpuk pada arteri koroner. Meningkatkan high-density lipoprotein (HDL), atau kolesterol "baik", mungkin membantu juga. Dokter Anda dapat memilih dari berbagai obat, termasuk statin, niasin, asam empedu fibrates dan sequestrants.
  2. Aspirin. Dokter Anda mungkin menyarankan meminum aspirin harian atau pengencer darah lainnya. Hal ini dapat mengurangi kecenderungan darah untuk membeku, yang dapat membantu mencegah penyumbatan arteri koroner Anda. Jika anda pernah mengalami serangan jantung, aspirin dapat membantu mencegah serangan di masa depan. Ada beberapa kasus di mana aspirin tidak sesuai, seperti jika Anda memiliki kelainan pendarahan dimana Anda sudah menggunakan pengencer darah lain, jadi tanyalah dokter Anda sebelum memulai minum aspirin.
  3. Beta bloker. Obat-obatan ini memperlambat denyut jantung dan menurunkan tekanan darah, yang menurunkan permintaan oksigen jantung Anda. Jika anda pernah mengalami serangan jantung, beta blocker mengurangi risiko serangan di masa depan.
  4. Nitrogliserin. Nitrogliserin tablet, semprotan dan koyo dapat mengontrol nyeri dada dengan membuka arteri koroner Anda dan mengurangi permintaan jantung Anda untuk darah.
  5. Penghambat angiotensin-converting enzyme (ACE). Obat-obatan ini menurunkan tekanan darah dan dapat membantu mencegah perkembangan penyakit arteri koroner. Jika anda pernah mengalami serangan jantung, ACE inhibitor mengurangi risiko serangan di masa depan.
  6. Calcium channel blocker. Obat-obat ini melemaskan otot-otot yang mengelilingi arteri koroner Anda dan menyebabkan pembuluh terbuka, meningkatkan aliran darah ke jantung Anda. Mereka juga mengendalikan tekanan darah tinggi.
Prosedur untuk memulihkan dan memperbaiki aliran darah 

Kadang-kadang perawatan lebih agresif diperlukan. Berikut adalah beberapa pilihan:
  1. Angioplasty dan penempatan stent (revaskularisasi koroner perkutan). Dalam prosedur ini, dokter Anda menyisipkan tabung panjang, tipis (kateter) ke dalam bagian yang menyempit dari arteri Anda. Sebuah kawat dengan balon kempis melewati kateter ke daerah menyempit. Balon tersebut kemudian dipompa, menekan dinding arteri Anda. Sebuah tabung mesh (stent) sering ditempatkan di arteri untuk membantu menjaga arteri terbuka. Beberapa stent perlahan melepas obat untuk membantu menjaga arteri terbuka.
  2. Operasi bypass arteri koroner. Seorang ahli bedah menciptakan sebuah graft untuk membypass arteri koroner yang tersumbat menggunakan pembuluh dari bagian lain dari tubuh Anda. Hal ini memungkinkan darah mengalir di sekitar arteri koroner yang tersumbat atau menyempit. Karena ini memerlukan operasi jantung terbuka, itu yang paling sering dilakukan untuk kasus beberapa arteri koroner menyempit.
PENCEGAHAN
Resiko terjadinya penyakit arteri koroner bisa dikurangi dengan melakukan beberapa tindakan berikut:
·  Berhenti merokok
·  Menurunkan tekanan darah
·  Mengurangi berat badan
·  Melakukan olah raga.


Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)


DEFINISI
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. 

Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke,aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. 

Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). 
Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan puluh. 
Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat duduk tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya. 
Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. 

Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut. 
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis. 

Hipertensi maligna adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak diobati, akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan. 
Hipertensi ini jarang terjadi, hanya 1 dari setiap 200 penderita hipertensi. 

Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. 
Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. 
Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari. 




Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa 
Kategori
Tekanan Darah Sistolik
Tekanan Darah Diastolik
Normal
Dibawah 130 mmHg
Dibawah 85 mmHg
Normal tinggi
130-139 mmHg
85-89 mmHg
Stadium 1 
(Hipertensi ringan)
140-159 mmHg
90-99 mmHg
Stadium 2 
(Hipertensi sedang)
160-179 mmHg
100-109 mmHg
Stadium 3 
(Hipertensi berat)
180-209 mmHg
110-119 mmHg
Stadium 4 
(Hipertensi maligna)
210 mmHg atau lebih
120 mmHg atau lebih


PENGENDALIAN TEKANAN DARAH 

Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
  1. Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya
  2. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karenaarteriosklerosis. 
    Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadivasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
  3. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.
Sebaliknya, jika: 
- aktivitas memompa jantung berkurang 
- arteri mengalami pelebaran 
- banyak cairan keluar dari sirkulasi 
maka tekanan darah akan menurun. 

Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis).
  1. Perubahan fungsi ginjal 
    Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara: 
    - Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekana darah ke normal. 
    - Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal. 
    - Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensi, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron. 

    Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena itu berbagai penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi. 
    Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. 
    Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah. 
  1. Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom, yang untuk sementara waktu akan: 
    - meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar) 
    - meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung; juga mempersempit sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar arteriola di daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak) 
    - mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan meningkatkan volume darah dalam tubuh 
    - melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), yang merangsang jantung dan pembuluh darah.
PENYEBAB
Pada sekitar 90% penderita hipertensi, penyebabnya tidak diketahui dan keadaan ini dikenal sebagai hipertensi esensial atau hipertensi primer. 
Hipertensi esensial kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah. 

Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. 
Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. 
Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB). 

Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin). 

Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. 
Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal. 

Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:
  1. Penyakit Ginjal 
    - Stenosis arteri renalis 
    - Pielonefritis 
    - Glomerulonefritis 
    - Tumor-tumor ginjal 
    - Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan) 
    - Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal) 
    - Terapi penyinaran yang mengenai ginjal 
  2. Kelainan Hormonal 
    - Hiperaldosteronisme 
    - Sindroma Cushing 
    - Feokromositoma 
  3. Obat-obatan 
    - Pil KB 
    - Kortikosteroid 
    - Siklosporin 
    - Eritropoietin 
    - Kokain 
    - Penyalahgunaan alkohol 
    - Kayu manis (dalam jumlah sangat besar) 
  4. Penyebab Lainnya 
    - Koartasio aorta 
    - Preeklamsi pada kehamilan 
    - Porfiria intermiten akut 
    - Keracunan timbal akut.
GEJALA
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). 
Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. 

Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut: 
- sakit kepala 
- kelelahan 
- mual 
- muntah 
- sesak nafas 
- gelisah 
- pandangan menjadi kabur 
yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal. 

Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. 
Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera. 

Hipertensi yg tidak diobati 
DIAGNOSA
Tekanan darah diukur setelah seseorang duduk atau berbaring selama 5 menit. 
Angka 140/90 mmHg atau lebih dapat diartikan sebagai hipertensi, tetapi diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu kali pengukuran. 

Jika pada pengukuran pertama memberikan hasil yang tinggi, maka tekanan darah diukur kembali dan kemudian diukur sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk meyakinkan adanya hipertensi. 
Hasil pengukuran bukan hanya menentukan adanya tekanan darah tinggi, tetepi juga digunakan untuk menggolongkan beratnya hipertensi. 

Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan terhadap organ utama, terutama pembuluh darah, jantung, otak dan ginjal. 

Retina (selaput peka cahaya pada permukaan dalam bagian belakang mata) merupakan satu-satunya bagian tubuh yang secara langsung bisa menunjukkan adanya efek dari hipertensi terhadap arteriola (pembuluh darah kecil). Dengan anggapan bahwa perubahan yang terjadi di dalam retina mirip dengan perubahan yang terjadi di dalam pembuluh darah lainnya di dalam tubuh, seperti ginjal. 
Untuk memeriksa retina, digunakan suatu oftalmoskop. Dengan menentukan derajat kerusakan retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya hipertensi. 

Perubahan di dalam jantung, terutama pembesaran jantung, bisa ditemukan padaelektrokardiografi (EKG) dan foto rontgen dada. 
Pada stadium awal, perubahan tersebut bisa ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi(pemeriksaan dengan gelombang ultrasonik untuk menggambarkan keadaan jantung). 

Bunyi jantung yang abnormal (disebut bunyi jantung keempat), bisa didengar melaluistetoskop dan merupakan perubahan jantung paling awal yang terjadi akibat tekanan darah tinggi. 

Petunjuk awal adanya kerusakan ginjal bisa diketahui terutama melalui pemeriksaan air kemih. 
Adanya sel darah dan albumin (sejenis protein) dalam air kemih bisa merupakan petunjuk terjadinya kerusakan ginjal. 

Pemeriksaan untuk menentukan penyebab dari hipertensi terutama dilakukan pada penderita usia muda. 
Pemeriksaan ini bisa berupa rontgen dan radioisotop ginjal, rontgen dada serta pemeriksaan darah dan air kemih untuk hormon tertentu. 

Untuk menemukan adanya kelainan ginjal, ditanyakan mengenai riwayat kelainan ginjal sebelumnya. 
Sebuah stetoskop ditempelkan diatas perut untuk mendengarkan adanya bruit (suara yang terjadi karena darah mengalir melalui arteri yang menuju ke ginjal, yang mengalami penyempitan). 
Dilakukan analisa air kemih dan rontgen atau USG ginjal. 

Jika penyebabnya adalah feokromositoma, maka di dalam air kemih bisa ditemukan adanya bahan-bahan hasil penguraian hormon epinefrin dan norepinefrin. 
Biasanya hormon tersebut juga menyebabkan gejala sakit kepala, kecemasan, palpitasi(jantung berdebar-debar), keringat yang berlebihan, tremor (gemetar) dan pucat. 

Penyebab lainnya bisa ditemukan melalui pemeriksaan rutin tertentu. 
Misalnya mengukur kadar kalium dalam darah bisa membantu menemukan adanyahiperaldosteronisme dan mengukur tekanan darah pada kedua lengan dan tungkai bisa membantu menemukan adanya koartasio aorta. 
PENGOBATAN
Hipertensi esensial tidak dapat diobati tetapi dapat diberikan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi. 

Langkah awal biasanya adalah merubah pola hidup penderita:
  1. Penderita hipertensi yang mengalami kelebihan berat badan dianjurkan untuk menurunkan berat badannya sampai batas ideal.
  2. Merubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan atau kadar kolesterol darah tinggi. 
    Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3 gram natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya (disertai dengan asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup) dan mengurangi alkohol.
  3. Olah raga aerobik yang tidak terlalu berat. 
    Penderita hipertensi esensial tidak perlu membatasi aktivitasnya selama tekanan darahnya terkendali.
  4. Berhenti merokok.
PEMBERIAN OBAT-OBATAN
  1. Diuretik thiazide biasanya merupakan obat pertama yang diberikan untuk mengobati hipertensi. 
    Diuretik membantu ginjal membuang garam dan air, yang akan mengurangi volume cairan di seluruh tubuh sehingga menurunkan tekanan darah. 
    Diuretik juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah. 
    Diuretik menyebabkan hilangnya kalium melalui air kemih, sehingga kadang diberikan tambahan kalium atau obat penahan kalium. 
    Diuretik sangat efektif pada: 
    - orang kulit hitam 
    - lanjut usia 
    - kegemukan 
    - penderita gagal jantung atau penyakit ginjal menahun 
  2. Penghambat adrenergik merupakan sekelompok obat yang terdiri dari alfa-blocker,beta-blocker dan alfa-beta-blocker labetalol, yang menghambat efek sistem saraf simpatis. 
    Sistem saraf simpatis adalah sistem saraf yang dengan segera akan memberikan respon terhadap stres, dengan cara meningkatkan tekanan darah. 
    Yang paling sering digunakan adalah beta-blocker, yang efektif diberikan kepada: 
    - penderita usia muda 
    - penderita yang pernah mengalami serangan jantung 
    - penderita dengan denyut jantung yang cepat 
    - angina pektoris (nyeri dada) 
    - sakit kepala migren. 
  3. Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-inhibitor) menyebabkan penurunan tekanan darah dengan cara melebarkan arteri. 
    Obat ini efektif diberikan kepada: 
    - orang kulit putih 
    - usia muda 
    - penderita gagal jantung 
    - penderita dengan protein dalam air kemihnya yang disebabkan oleh penyakit ginjal menahun atau penyakit ginjal diabetik 
    - pria yang menderita impotensi sebagai efek samping dari obat yang lain. 
  4. Angiotensin-II-bloker menyebabkan penurunan tekanan darah dengan suatu mekanisme yang mirip dengan ACE-inhibitor. 
  5. Antagonis kalsium menyebabkan melebarnya pembuluh darah dengan mekanisme yang benar-benar berbeda. 
    Sangat efektif diberikan kepada: 
    - orang kulit hitam 
    - lanjut usia 
    - penderita angina pektoris (nyeri dada) 
    - denyut jantung yang cepat 
    - sakit kepala migren. 
  6. Vasodilator langsung menyebabkan melebarnya pembuluh darah. 
    Obat dari golongan ini hampir selalu digunakan sebagai tambahan terhadap obat anti-hipertensi lainnya. 
  7. Kedaruratan hipertensi (misalnya hipertensi maligna) memerlukan obat yang menurunkan tekanan darah tinggi dengan segera. 
    Beberapa obat bisa menurunkan tekanan darah dengan cepat dan sebagian besar diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah): 
    - diazoxide 
    - nitroprusside 
    - nitroglycerin 
    - labetalol. 
    Nifedipine merupakan kalsium antagonis dengan kerja yang sangat cepat dan bisa diberikan per-oral (ditelan), tetapi obat ini bisa menyebabkan hipotensi, sehingga pemberiannya harus diawasi secara ketat.
PENGELOLAAN HIPERTENSI SEKUNDER 

Pengobatan hipertensi sekunder tergantung kepada penyebabnya. 
Mengatasi penyakit ginjal kadang dapat mengembalikan tekanan darah ke normal atau paling tidak menurunkan tekanan darah. 

Penyempitan arteri bisa diatasi dengan memasukkan selang yang pada ujungnya terpasang balon dan mengembangkan balon tersebut. 
Atau bisa dilakukan pembedahan untuk membuat jalan pintas (operasi bypass). 

Tumor yang menyebabkan hipertensi (misalnya feokromositoma) biasanya diangkat melalui pembedahan. 
PENCEGAHAN
Perubahan gaya hidup bisa membantu mengendalikan tekanan darah tinggi. 

Perubahan gaya hidup

Sel Darah Putih


Sel darah putih (disebut juga leukosit)  membantu  melawan infeksi dalam tubuh kita.
Hitung Sel Darah Putih (white blood cell count/WBC) adalah jumlah total leukosit. Leukosit tinggi (hitung sel darah putih yang tinggi) umumnya  berarti tubuh kita sedang melawan infeksi. Leukosit rendah artinya ada masalah dengan sumsum tulang. Leukosit rendah, yang disebut leukopenia atau sitopenia, berarti  tubuh kita kurang mampu melawan infeksi.
Hitung Jenis (differential) menghitung  lima jenis sel darah putih: neutrofil,
limfosit, monosit, eosinofil dan basofil. Hasil masing-masing dilaporkan sebagai persentase jumlah leukosit. Persentase ini dikalikan leukosit untuk mendapatkan hitung ‘mutlak’. Contohnya, dengan limfosit 30% dan leukosit 10.000, limfosit mutlak adalah 30% dari 10.000 atau 3.000.
Neutrofil berfungsi melawan infeksi bakteri. Biasa jumlahnya 55-70% jumlah leukosit. Jika neutrofil kita rendah (disebut neutropenia), kita lebih mudah terkena infeksi bakteri. Penyakit HIV lanjut dapat menyebabkan neutropenia. Begitu juga, beberapa jenis obat yang dipakai oleh Odha (misalnya gansiklovir untuk mengatasi virus sitomegalo, lihat LI 501) dan AZT (semacam ARV; lihat LI 411). Ada dua jenis utama limfosit: sel-T yang menyerang dan membunuh kuman, serta membantu mengatur sistem kekebalan tubuh; dan sel-B yang membuat antibodi, protein khusus yang menyerang kuman. Jumlah limfosit umumnya 20-40% leukosit. Salah satu jenis sel-T adalah sel CD4, yang tertular dan dibunuh oleh HIV (lihat LI 124). Hitung darah lengkap tidak termasuk tes CD4. Tes CD4 ini harus diminta sebagai tambahan. Hasil hitung darah lengkap tetap dibutuhkan untuk menghitung jumlah CD4, sehingga dua tes ini umumnya dilakukan sekaligus.
Monosit atau makrofag mencakup 2- 8% leukosit. Sel ini melawan infeksi dengan ‘memakan’ kuman dan memberi tahu sistem kekebalan tubuh mengenai kuman apa yang ditemukan. Monosit beredar dalam darah. Monosit yang berada di berbagai jaringan tubuh disebut makrofag. Jumlah monosit yang tinggi umumnya menunjukkan adanya infeksi bakteri.
Eosinofil biasanya 1-3% leukosit. Sel ini terlibat dengan alergi dan tanggapan terhadap parasit. Kadang kala penyakit HIV dapat menyebabkan jumlah eosinofil yang tinggi. Jumlah yang tinggi, terutama jika kita diare, kentut, atau perut kembung, mungkin menandai keberadaan parasit.
Fungsi basofil tidak jelas dipahami, namun sel ini terlibat dalam reaksi alergi jangka panjang, misalnya asma atau alergi kulit. Sel ini jumlahnya kurang dari 1% leukosit.
Persentase limfosit mengukur lima jenis sel darah putih: neutrofil, limfosit, monosit,
eosinofil dan basofil, dalam bentuk persentase leukosit. Untuk memperoleh limfosit total, nilai ini dikalikan dengan leukosit. Misalnya, bila limfosit 30,2% dan leukosit 8.770, limfosit totalnya adalah 0,302 x 8.770 = 2.648.
Sel darah yang berperan khusus dalam sistem imun dalam tubuh adalah leukosit. Leukosit atau sel darah putih adalah sel yang mengandung inti. Dalam darah normal manusia terdapat 4000-11000 sel / mm³ ( A.V. Hoffbrand dan J.E Pettit, 1989 ). Jumlahnya pada anak-anak lebih tinggi dan pada keadaan patologis berbeda nyata dengan yang normal. Bila jumlahnya lebih dari jumlah leukosit normal, maka disebut leukositosis sedangkan bila jumlahnya kurang dari jumlah leukosit normal, maka disebut leukopenia. Leukosit terdiri dari dua golongan utama yaitu agranular dan granular. Leukosit agranular mempunyai sitoplasma tampak homogen dan intinya berbentuk bulat atau berbentuk ginjal. Leukosit granular mengandung granula spesifik dalam sitoplasmanya dan mempunyai inti yang memperlihatkan banyak variasi dalam bentuknya. Leukosit agranular terdiri dari limfosit dan monosit sedangkan leukosit granular terdiri dari neutrofil, basofil dan eosinofil. Limfosit di dalam darah manusia merupakan sel-sel bulat dengan diameter yang bervariasi antara 6 - 8μm ( C. Roland Leeson, dkk, 1996 ) walaupun beberapa diantaranya mungkin lebih besar tetapi kebanyakan hanya lebih besar sedikit daripada eritrosit. Jumlah limfosit adalah 20 – 35% dari leukosit darah normal. Gambaran yang paling mencolok dari limfosit kecil adalah inti yang relatif besar dikelilingi sitoplasma sempit. Inti tampak bulat dan pada umumnya menunjukkan cekungan atau lekukan pada satu sisi. Kromatin inti yang sangat padat terpulas gelap dan anak inti pada pulasan hapus darah tidak tampak. Granula azurofil keunguan, kadang-kadang terlihat di dalam sitoplasma dan tidak merupakan gambaran yang tetap seperti granula spesifik leukosit granular. Beberapa limfosit dalam sirkulasi darah normal berukuran 10 - 12μm ( C. Roland Leeson, dkk, 1996 ). Ukuran yang lebih besar disebabkan sitoplasmanya lebih banyak. Sel-sel tersebut kadang disebut sebagai limfosit ukuran sedang. Walaupun limfosit-limfosit darah morfologinya tampak serupa, mereka merupakan populasi sel yang heterogen. Limfosit dapat digolongkan berdasarkan asal, struktur halus, surface markers ( berkaitan dengan sifat imunologinya ), siklus hidup dan fungsi. Monosit merupakan sel besar yang jumlahnya 3 – 8% dari leukosit normal. Diameternya 9 – 10μm ( C. Roland Leeson, dkk, 1996 ) tetapi pada hapus darah kering menjadi pipih mencapai diameter 20μm atau lebih. Inti biasanya terletak eksentris dalam sel, terlihat mempunyai lekukan di dalam ( berbentuk tapal kuda ). Bahan kromatin dalam inti tersusun sebagai jala-jala halus sehingga inti dapat terpulas gelap. Sitoplasma relatif banyak dengan pulasan Wright berupa biru abu-abu pada sajian kering. Ia sering tampak seperti jala-jala atau berfakuola dan mengandung sejumlah granula azurofil. Sitoplasma juga mengandung beberapa retikulum endoplasma granular tetapi lebih sedikit ribosom bebasnya daripada yang terdapat di dalam limfosit. Neutrofil termasuk leukosit polimorfonuklir dalam keadaan segar  berdiameter 7 - 9μm dan dalam hapus darah kering 10 -12 μm ( C. Roland Leeson, dkk, 1996 ). Dalam darah manusia, neutrofil berjumlah 65 - 75% dari jumlah seluruh leukosit. Inti sangat polimorf dan memperlihatkan berbagai bentuk. Inti umumnya terdiri atas 3 sampai 5 lobus berbentuk lonjong yang tidak teratur yang dihubungkan oleh benang-benang kromatinyang halus. Jumlah lobus bertambah sesuai dengan bertambahnya umur sel. Sifat neutrofil yaitu mempunyai sitoplasma yang berlimpah yang diisi oleh granula yang halus. Disamping granula neutrofil spesifik, sitoplasma mengandung granula azurofil. Granula neutrofil ini pada mikrograf elektron tampak relatif padat dan mengandung enzim lisosom dan enzim peroksidase. Kedua jenis granula tersebut dibentuk dalam aparat golgi dan diliputi selaput membran ( membrane bounded ). Eosinofil termasuk leukosit asidofil yang tampak lebih besar daripada neutrofil dan dalam keadaan segar mempunyai diameter 9 - 10μm. Ukuran sel pipih bervariasi dari 12 - 14μm pada hapus darah kering ( C. Roland Leeson, dkk, 1996 ). Jumlah normalnya kurang lebih 2 – 4% dari jumlah sel leukosit. Inti biasanya mempunyai 2 lobus. Ciri khas sitoplasmanya adalah mengandung granula kasar refraktil yang seragam ukurannya dengan pulasan asam terpulas intensif. Granula spesifik pada mikrograf elektron tampak mencolok. Ia tampak berpita disebabkan adanya kristal-kristal silindris di dalamnya. Granula tampak mengandung peroksidase dan sejumlah enzim  hidrolitik sehingga granula-granula tersebut bersifat lisosomal. Basofil merupakan leukosit dalam darah manusia yang sulit ditemukan karena jumlahnya hanya 0,5 – 1% dari jumlah seluruh sel leukosit. Sel basofil yang berukuran kurang lebih sama dengan neutrofil, dalam keadaan segar mempunyai diameter 7 - 9μm sedangkan pada darah 16 hapus kering 10μm atau lebih. Batas inti sering tidak teratur dan untuk sebagian terbagi 2 lobus. Granula sitoplasma bulat kasar dengan ukuran berbeda-beda. Beberapa granula menutupi inti sehingga sering mengaburkan batasnya. Granula bersifat basofil dan metakromatik serta mengandung histamin, heparin dan serotonin. Tidak seperti granula dalam leukosit granular yang lain, granula ini tidak merupakan lisosom. Leukosit menjalankan sebagian besar fungsinya di luar sistem peredaran darah yaitu memperlihatkan gerakan aktif dan sebagian mempunyai daya fagositosis. Gerakan yang diperlihatkan adalah suatu proses merangkak atau amuboid pada substrat. Neutrofil adalah yang paling aktif kemudian diikuti monosit dan basofil. Limfosit umumnya tampak paling lambat tetapi dalam keadaan tertentu dapat menjadi luar biasa aktifnya. Di dalam tubuh terjadi perpindahan leukosit secara terusmenerus dari pembuluh darah masuk ke dalam jaringan. Perpindahan keluar ( emigrasi ) sangat meningkat ke arah tempat luka atau peradangan. Hal ini merupakan reaksi spesifik terhadap rangsangan kemotaktik. Sel-sel yang pertama tanggap dengan rangsangan tersebut adalah leukosit granular dan monosit. Limfosit tertimbun dalam jaringan pada tempat-tempat peradangan kronik. Neutrofil merupakan garis pertahanan pertama terhadap sebuah organisme. Granula spesifiknya yang bersifat lisosomal mengandung enzim-enzim hidrolitik yang bergabung dengan fagosom untuk membentuk lisosom sekunder. Disamping lisozim yang merusak glikosid pada dinding sel bakteri, mereka juga mengandung laktoferin yaitu suatu protein yang tidak hanya bakteriostatis terhadap bakteri pengguna besi tetapi juga menghalangi produksi neutrofil lebih lanjut. Granula-granula dapat menghasilkan suatu produk seperti klorida dan lesitin yang menghalangi atau membunuh mikroorganisme. Granula azurofil adalah jenis granula lain yang terdapat di dalam sitoplasma. Ia juga bersifat lisosomal, mengandung enzim asam hidrolitik dan enzim khusus mieloperoksidase yang bersatu dengan hidrogen peroksida menghasilkan oksigen aktif yang bersifat bakteriosidal. Ketika terjadi infeksi akut, neutrofil dapat menumpahkan pseudoplatelets ( trombosit semu ) yang segera dapat dibedakan dari keping-keping darah ( trombosit ) sejati karena mengandung mieloperoksidase neutrofil. Setelah aktifitas tersebut, neutrofil kehilangan semua granula dan akhirnya mati. Seperti halnya neutrofil, eosinofil mempunyai granula yang bersifat lisosomal dan dianggap memfagositosis kompleks antigenantibodi. Granula ter sebut juga dapat mengurangi peradangan dengan mengaktifkan histamin. Jumlah eosinofil bertambah dalam keadaan alergi tertentu dan infeksi parasit. Jumlah eosinofil yang bertambah ditarik ke arah tempat reaksi oleh faktor kemotaktik yang dihasilkan oleh basofil dan limfosit. Jumlah eosinofil berkurang setelah pemberian kortikosteroid adrenal. Basofil meningkat jumlahnya secara relatif pada keadaan patologis. Ada beberapa kenyataan yang menyokong pandangan bahwa granula basofil mengandung heparin, suatu antikoagulan darah dan histamin, suatu bahan vasodilatasi yang berefek cepat tapi singkat yang menginduksi kenaikan permeabilitas vaskuler. Basofil mempunyai hubungan yang erat dengan sel mast dan jaringan ikat lainnya. Begitu pula dengan monosit yang siap pindah tempat melalui dinding pembuluh dan melakukan fagositosis secara aktif. Beberapa sel limfosit dibentuk dalam sumsum tulang dari sel yang pluripoten atau hemopoietik ( hematopoietik ) dan masuk ke timus kemudian memperbanyak diri di sana. Sel-sel yang dihasilkan di dalam timus ini ( sel T ) kemudian masuk kembali ke dalam aliran darah dan kembali ke dalam sumsum tulang atau organ-organ limfoid perifer. Sel T bertanggung jawab terhadap reaksi imun selular dan mempunyai reseptor permukaan yang spesifik untuk mengenal antigen asing. Limfosit lain seperti sel B tidak melalui timus tetapi bergerak langsung lewat peredaran  darah ke jaringan limfoid umumnya. Sel B bertugas untuk memproduksi antibodi yang beredar dalam peredaran darah dan mengikat secara khusus antigen asing yang menyebabkan terbentuknya antigen asing – tersalut antibodi ( antibody-coated foreign antigen ). Kompleks ini mempertinggi fagositosis, lisis sel dan penghancuran Sel pembunuh ( killer cell atau sel K ) dari organisme yang menyerang. Sel T dan sel B secara morfologis hanya dapat dibedakan ketika diaktifkan oleh antigen.
Tahap akhir diferensiasi sel-sel B yang diaktifkan berwujud sebagai sel plasma ( C. Roland Leeson, dkk, 1996). Respon imun terdiri dari respon imun nonspesifik dan respon imun spesifik. Respon imun nonspesifik merupakan respon imun bawaan yang berarti respon ini dapat terjadi meskipun sebelumnya tubuh belum pernah terpapar oleh zat tersebut. Sedangkan respon imun spesifik adalah reaksi dari host terhadap benda asing mencakup sederetan interaksi seluler yang ditandai dengan adanya produk yang spesifik dari sel. Respon imun spesifik dibagi menjadi 3 golongan yaitu respon imun seluler, respon imun humoral dan interaksi antara respon imun seluler dan humoral ( T. Gartinah, 1996 ).




Gambar macam – macam sel leukosit
        
Neutrofil              Limfosit                Monosit      Basofil


macam – macam sel leukosit

                
Eosinofil





Hitung leukosit menyatakan jumlah sel-sel leukosit perliter darah (System International Units = SI unit) atau per satu mmk darah. Nilai normalnya 4000 - 11000 / mmk.Untuk penerapan hitung leukosit ada dua metode, manual dan elektronik. Pada umumnya metode elektronik belum digunakan secara umum, mungkin baru di laboratorium besar, sehingga cara manual masih memegang peranan penting. Metode elektronik tidak dibicarakan.
a. Dasar
Darah diencerkan dengan larutan asam lemah, yang menyebabkan sel-sel erotrosit hemolisis serta darah menjadi encer, sehingga sel-sel leukosit mudah dihitung.
b. Peralatan :
1. haemocytometer
·         bilik hitung
·         pipet leukosit
·         pipet eritrosit (untuk menghitung eritrosit)
Bilik Hitung adalah bilik hitung Neubauer Improve atau Burker karena mempunyai daerah perhitungan yang luas.
burker : luas seluruh bilik : 3x 3 mm2. di dalam bilik terdapat :         
·         kotak besar : 1 x 1 mm2
·         kotak sedang : 1/5 x 1/5 mm2
·         kotak kecil : 1/20 x 1/20 mm2
Neubauer Improve : luas seluruh bilik 3 x 3 mm2. tinggi/dalam 0,1 mm. di dalam bilik terdapat :
·         kotak besar : 1 x 1 mm2
·         kotak sedang ada 2 macam :
o    di tengah : 1/5 x 1/5 mm2
o    di empat sudut : 1/4 x 1/4 mm2
·         kotak kecil : 1/20 x 1/20 mm2
pipet leukosit didalamnya terdapat bola berwarna putih, mempunyai garis 0,5 - 1 - 11
2. kaca penutup
3. mikroskop
c. Larutan pengencer yang dapat digunakan salah satunya larutan truk
  • asam asetat glacial 2 ml
  • gentian violet 1 ml
  • aquades 100 ml

d. Spesimen
Darah vena atau darah kapiler
e. Cara Kerja
  • Bilik hitung dicari dengan menggunakan mikroskop, cari kotak sedang di tempat ujung bilik hitung
  • hisap darah dengan pipet leukosit sampai angka 1 (pengenceran = 10x) atau sampai angka 5 (pengenceran = 20x)
  • hapus darah yang melekat pada ujung pipet
  • kenudian dengan pipet yang sama hisap larutan truk sampai angka 11
  • campur (kocok) secara horisontal
  • buang tetesan pertama
  • tuangkan dalam bilik hitung yang telah ditutup dengan kaca penutup dan diletakkan di mikroskop
  • lakukan perhitungan sel leukosit dengan perbesaran obyektif 10 atau 40 x.
f. Perhitungan
jumlah leukosit =

rata-rata jumlah leukosit tiap kotak X pengenceran
volume tiap kotak



g. Nilai Normal menurut Dacie
  • dewasa pria : 4 - 11 ribu/mmk
  • dewasa wanita : 4 - 11 ribu/mmk
  • bayi : 10 -25 ribu/mmk
  • 1 tahun: 6 - 18 ribu/mmk
  • 12 tahun : 4,5 - 13 ribu/mmk